(Kesalahan kesalahan?) Gramatikal Al-Qur’an

Saya pernah membaca dalam situs indonesia.faithfreedom.org, sebuah situs yang sekarang dilarang di negri ini karena terlalu dan bahkan tercipta untuk memojokka dan menghina agama islam. Salah satu tulisan disitus itu adalah mereka menyatakan bahwa telah terjadi kesalahan-kesalahan gramatikal dalam Al-Quran, dan itu menyebabkan Al-Quran bukan kitab yang suci dan layak untuk di agungkan karena banyak kesalahan di dalamnya. Mereka menampilkan contoh-contoh dalam Alquran yang menunjukan kesalahan kesalahan itu. karena keawaman dan cukup mengganggu pikiran dan keimanan saya, saya berusaha mencari jawaban tentang masalah ini kepada orang yang mempunyai kemampuan mumpuni tentang masalah ini. tentu dalam benak saya waktu itu yang ada hanya Ustad Musa Kazhim, dan berikut adalah jawaban dari Ustad Musa: (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 27, 2009 at 5:44 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Dewa 19 dan cinta

DEWA 19

Dewa 19 kembali mengeluarkan album. Di beri judul Republik Cinta. Seperti kita ketahui sebelum album terbaru ini keluar, Dewa di mana Ahmad Dhani sebagai presidennya banyak menuai protes dari kalangan agamawan. Dari masalah lambang album ke-7 yang bertajuk laskar cinta yang konon katanya merupakan kaligrafi berbunyi “Allah” sampai ke masalah lirik lagu. Menurut dani lirik lagu yang di tulisnya pada album laskar cinta sarat dengan luapan cinta kepada Tuhan, kepada sang Khalik. Itu menurut dewa khususnya Dhani. Namun menurut kaum agamawan syair atau lirik dalam lagu-lagu dewa itu sangat menyesatkan dan meresahkan./Dengan tanganmu aku menyentuh/Dengan kakimu akau berjalan/Dengan matamu aku memandang/Dengan telingamu aku mendengar/Dengan lidahmu aku bicara/Dengan hatimu aku merasa. Beginilah pesan dewa dalam lagu yang berjudul “satu”(album lascar cinta), sangat kental sekali menyuarakan konsep penyatuan hamba dan Tuhannya (wahdatul wujud), seperti yang di usung pertama kali oleh Alhallaj, salah satu tokoh sufi kenamaan yang kontroversial. Konsep ini tak semua kalangan islam menerimanya, walaupun ada dalam jumlah yang sedikit menerimanya. Ridwan Saidi, penulis buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyatakan faham ini sesat dan menyesatkan. Wallahualam.

Disini saya tak mau membahas konsep wahdatul wujud diatas. Tapi saya mencoba untuk membuka inkonsistensi Dhani dalam menulis syair-sayairnya apabila Dhani masih setia bersyair dengan kesufi-sufian. Dan secara kebetulan saya menemukannya. Saya menemukannya karena saya adalah penikmat setia lagu-lagu dewa.

Dalam lagu terbarunya yang berjudul laskar cinta, sepertinya dewa mengusung makna cinta dalam lirik-liriknya./Laskar cinta sebarkanlah benih-benih cinta/Musnahkanlah virus-virus benci/Virus yang bisa rusakkan jiwa dan busukakkan hati/Lascar cinta ajarkanlah ilmu tentang cinta/ Karena cinta adalah Hakikat/Dan jalan yang terang bagi semua umat manusia. Dia juga menuliskan dalam lagu ini /Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi/Menyayangi manusia-manusia yang penuh benci seperti kamu.

Cinta mungkin menjadi tema yang paling sering di bicarakan, didiskusikan, diperdebatkan, diteaterkan atau di filmkan. Buku-buku tentang cinta sudah banyak telah menjadi bagian dalam jejeran buku-buku di perpustakaan-perpustakaan besar di dunia. Kisah-kisah tentang cinta begitu di elu-elukan. Ribuan novel tentang cinta telah di lahirkan ratusan pujangga. Romeo dan Juliet, Laila Majnun, Hamlet-nya Shakespare menjadi contohnya.

Lalu apa sih cinta itu. Dalam psikologi sufi manusia terdiri dari tiga lapis. Lapis terdalam adalah ruh, lalu yang ditengah-tengah adalah qalbu atau nafsu dan yang paling terluar adalah badan atau yang biasa disebut jasmani. Ruh adalah lapisan inti dari kemahlukan manusia. Ruh itu utuh. Pada ruh tak ada yang namanya kontradiksi atau friksi. Sekali lagi dia utuh. Pada tahap atau lapisan Qalbu baru ada kontradiksi atau friksi. Pada lapisan Qalbu ini ada yang namanya laki-laki atau perempuan, ada senang ada sedih, ada nikmat, nyaman, manis, pahit dan sebagainya. Kemudian pada lapisan terluar yaitu jasmani dijelaskan potensi-potensi atau bentuk-bentuk yang di akibatkan oleh kalbu. Seperti potensi kewanitaan misalnya betuk jasmaninya seperti apa. Ada payudara atau lainnya yang kita bisa menyimpulkan dia adalah seorang wanita.

Nah cinta itu letaknya pada lapisan mana? Dalam litelatur sufi, para sufi meletakkan cinta apada lapisn ruh. Dengan begitu cinta itu utuh. Tak ada konflik seperti senang dan benci atau pahit dan manis. Jadi bila kita sudah di naungi oleh cinta, kita tak akan mengenal lagi yang namanya benci dan sejenisnya. Kita sering mendengar orang mengucapkan aku jatuh cinta padamu, tapi setelah beberapa tahun kita melihatnya putus atau bercerai. Alasannya karena perbedaan yang terlalu besar cinta kita luntur atau karena perbuatan yang tak disukai cinta itu hangus. Menurut hakikat cinta, hubungan seperti itu belum di landasi cinta. Hubungan seperti itu hanya cinta di bibir saja. Karena cinta itu tak bisa luntur dan hangus. Akan lebih indah rasanya bila akan memulai suatu hubungan seperti pacaran kita mengucapkan kepada lawan jenis kita, “aku ingin menumbuhkan cinta diantara kita berdua, maukah engkau menjadi partnerku untuk mencari cinta itu agar kita dapat terus bersama hingga sepuhnya dunia.” Benci dan sejenisnya itu adalah cinta yang tersakiti kata sang pujangga kenamaan Kahlil Gibran. Benci menimbulkan rasa sakit pada cinta. Tapi cinta itu tetap ada karena dia utuh dan abadi. Misalkan bagaimanapun tidak senangnya orang tua pada anaknya yang nakal, orang tua itu pasti tetap mencintai anaknya itu. Begitu juga sebaliknya. Anaknya yang nakal itu menggores luka pada cinta sang orang tua. Alhasil cinta itu tak dapat di gugurkan oleh situasi apapun.  Seorang yang telah menemukan cinta hanya akan memandang keindahan, tak ada keburukan walaupun boleh jadi memang ada keburukan. Karena cinta setiap cacian adalah nyanyian yang mengalun indah. Karena cinta setiap tamparan adalah tarian indah. Cinta akan menyebabkan kita berada pada kebaikan semata. Oleh karena itu kebajikan-kebajikan yang tumbuh akibat cinta akan menghadirkan pengetahuan emosional yang baik, dimana Allah swt akan dirasakan kehadiran-Nya bukan oleh orang yang hanya menangakap tanda-tanda rasional saja tetapi oleh orang yang kaya emosional.

Kembali ke liriknya Dhani dalam lagu yang berjudul lascar cinta yang. Berdasarkan penjelasan diatas liriknya dani itu sangat tidak konsisten bila beliau mengatakan cinta adalah hakikat. Bila cinta adalah hakikat berarti tak ada lirik seperti ini /Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi/Menyayangi manusia-manusia yang penuh benci seperti kamu. Karena seperti di tulis diatas cinta itu tak mengenal benci. Rabi’ah Al-‘Adawiyah pernah ditanya oleh seseorang apakah dia membenci setan, beliau menjawab kecintaanya kepada Allah swt sudah tak menyisakan kebencian terhadap mahluk-mahluk yang di ciptakan Allah. Menurut Rumi, tokoh sufi yang setahu saya sangat di idolakan oleh Dhani (selain Dhani juga sangat mengidolakan Abdul Qadir Jaelani, Jalalludin al-Afghani dan Freddy Mercuri) hanya cinta yang dapat membawa seorang pelaku sufi berhasil dalam perjalanan mereka mencapai Diri Yang Tinggi, sebab cinta merupakan cara unggul mencapai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Dalam ke filsafatan rasa benci atau sebuah bentuk kejahatan itu tak ada. Pada hakikatnya kejahatan dan kebaikan itu berada dalam satu wujud, yaitu wujud kebajikan. Bukan berarti kejahatan yang kita sering saksikan di dunia ini bukan suatu kejahatan. Bentuk kejahatan atau kebencian itu timbul karena kebaikan itu sudah tak terlaksana lagi. Jadi Inilah makna ayat khairihi min syarrihi min Allah (kebajikan dan kesalahan dari Allah). Disini bukan Allah yang membuat kita berbuat kesalahan atu kejahatan. Seperti gelap  yang hadir karena penerangan tak ada. Dengan begitu cinta itu mengungkap hakikat-hakikat itu.

Terakhir, bila suatu saat Ahmad Dhani membaca tulisan ini saya akan mengucapkan terima kasih dan apabila dani tak setuju dengan apa yang saya utarakan, saya akan kembali berterima kasih bahkan akan semakin tulus karena dengan begitu dhani telah menumbuhkan rangsangan bagi saya untuk terus belajar menulis yang akan ada muaranya, dan dhani secara tidak langsung sudah menggalakkan tradisi diskursif yang sangat mulia. Anggaplah ketidaksetujuan anda menyadarkan saya bahwa tak ada kebenaran sejati yang ada adalah khayalan yang selama ini saya tak sadar. Atau meyakinkan saya bahwa saya tak punya daya dan upaya untuk menentukan kebenaran yang sejati.  Tapi akankah Dhani membacanya??

Diterbitkan di: on Desember 28, 2007 at 6:47 pm Komentar (1)

Martunis bertutur

Kenal Martunis? Tanggal 26 desember 2004 mungkin menjadi hari yang berbekas dalam rongga hatinya dan dalam ingatannya. Bagaimana tidak, gelombang  tsunami menerjang tanah kelahirannya. Bencana tsunami menerjang ratusan rumah, ribuan jiwa terhempas gelombang yang dahsyat hingga ikut terseret tak berdaya mengikuti aliran air. Ribuan anak kehilangan orang tuanya, begitu juga banyak orang tua yang kehilangan putra-putrinya. Tak kurang 200 ribu korban berjatuhan saat itu. Sungguh angka korban yang luar biasa yang pernah hadir dalam lintasan realita sejarah Indonesia. Ribuan trauma tumbuh subur diatas serambi mekah. Terutama anak-anak. Rizma Scoffield dari ICR ( Indonesia Children Relief ), suatu organisasi social dari Inggris bersama beberapa kolega perempuannya menjelaskan hasil kunjungannya ke aceh. Perempuan inggris berdarah melayu itu sempat bertanya jawab dengan putra-putri aceh,

“Siapa kehilangan ibu ?” tanyanya

“beberapa bocah mengacungkan tanganya.

“Siapa kehilangan ayah ?”

Beberapa lainnya angkat tangan.

“Siapa kehilangan ayah dan ibu ?”

Luar biasa sekali . ada lebih banyak jari-jari mungil teracung keatas. Nizma tak dapat berkata-kata selama beberapa saat. Ia tersentak kaget. Lidahnya kelu. Ia hanya mampu sesgera mungkin menyeka air matanya sebelum semakin deras mengucur, tak ingin menambah perih duka putra-putri aceh dengan tangisnya. Tugasnya kesana bukan tuk menangis, namun tuk kembali membuat mereka tersenyum.

            Air mata dunia tumpah. Setiap hati, mata, tangan akan jadi saksi.

            Itulah Aceh. Di propinsi yang kaya sumber alam dan kaya konflik itu lahir Martunis. Ditengah gelombang konflik yang tak berujung tumbuh Martunis. Belum genap delapan tahun umurnya gelombang yang lebih dahsyat menghentakkannya. Ibu dan dua orang saudaranya hilang entah kemana, diperkirakan telah tewas (menurutku mereka syahid). Secara ajaib Martunis selamat. Bocah asal desa tibang, kota banda aceh ini ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan di sebuah pantai dengan sekujur tubuh penuh bekas gigitan nyamuk. Ia selama 19 hari bertahan hidup hanya dengan memakan mie instant bungkus yag bertebaran di laut, lalu menggunakan apa saja yang ada didekatnya untuk mengapung. Dari mobil yang hanyut, kasur busa, sepotong kayu dan sebatang pohon bangka, sampai akhirnya ditemukan diatas kasur busa berlapis karet. Ia bertahan dengan semua itu. Waktu yang mengejutkan bagi seorang manusia apalagi anak kecil tanpa makan minum yang memadai. Tim televisi inggris yang sedang meliput menemukannya terkatung-katung di pesisir pantai. Lalu ia dibawa ke rumah sakit dan bertemu  dengan ayah dan kakenya yang telah terlebih dahulu berada disana.

            Lalu apa yang ada di benak kita setelah melihat kisah bocah ajaib ini.

            Sudah banyak teori, sudah banyak analisis yang dikeluarkan para ilmuwan, filosof, maupun teolog mengenai keberadaan Tuhan. Pemaparan tentang bukti-bukti tentang eksistensi Tuhan telah terukir dalam puluhan buku yang berjejer di rak-rak berdebu. Yang paling sering alam semesta dengan segala kerumitanya dan keteraturan di jadikan dalil atas keberadaan-Nya.

            Ilmu penetahuan mutkhir telah menemukan adanya bukti-bukti alamiah yang kuat bahwa alam ini tidak azali( sudah ada sebelum yang lain ada, tak diawali oleh sesuatu) dan alam juga tak kekal, karena telah dibatasi oleh umur tertentu. Menurut ilmu astronomi alam ini selalu berhubungan satu sama lain. Seluruh gugusan bintang serta semua benda-benda langit saling menjauh dengan kecepatan yang menakjubkan. Ini menunjukakan bahwa benda-benda yang saling menjauh itu  awalnya adalah sebuah kumpulan yang menyatu (entah kapan terjadinya). Karena ada energi panas menyebabkan terjadinya ledakan dahsyat (teori big bang) dan dibantu oleh energi gerak maka pemisahan itu terjadi. Ledakan dahsyat yang terjadi ternyata membentuk suatu keteraturan dan keseimbangan yang mempesona dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi.

            Menurut mereka lagi benda-benda yang saling menjauh itu akan berhenti bergerak pada massa dan titik tertentu. Segala yang ada awalnya pasti ada akhirnya. Gerak benda yang terus-menerus itu suatu saat akan berhenti dan mengalami kehancuran.   

            Dari penemuan-penemuan ini mereka ( para peneliti ) berkesimpulan bahwa di dalam pesona alam semesta ini ada suatu kekuatan yang mengatur segala proses yang terjadi. Mereka melihat jejak-jejak Tuhan dalam alam ini. Ada kekuatan yang meledakkan dengan meniupkan energi panas, ada kekuatan yang menggerakkan, ada kekuatan yang meletakkan dengan kesempurnaan dan keseimbangan yang luar biasa indah. Dialah kekutan yang maha kuasa. Dialah Tuhan, yang terlibat pada semua ini. sungguh Tuhan tak bermain dadu dalam penciptaan mereka.

            Lalu apa yang ada dibenak kita membaca uraian diatas.

            Khusunya saya yang awam, belum cukup untuk percaya begitu saja atau menggetarkan hati ini. terlalu memusingkan, njelimet. Bagi mereka para peneliti mungkin telah cukup karena mereka memahaminya. Dari otak mereka yang meneliti lalu memahaminya maka akhirnya menggetarkan hati mereka. Hal itu wajar saja. Nah kalau kita yang tidak terjun di bidang astronomi, fisika, atau disiplin ilmu yang membahas tentang planet dan dunia luar, mungkin hanya bias percaya saja. Kita tahu bahwa fungsi mata adalah untuk melihat. Bila di tanya buktinya, kita hanya mampu menjawab buktinya adalah coba tutup mata, pasti akan gelap semua ini. dangkal sekali pemahaman kita. Spinoza, seorang filosof dari belanda berkata ketika ditanya apakah ia percaya pada Tuhan ,  Kita seperti anak kecil yang masuk ke sebuah perpustakaan besar penuh dengan buku. Anak itu sadar pasti ada yang pernah menulis buku-buku itu. Secara samar-samar, si anak menduga ada keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu. Bagiku itulah sikap yang sesungguhnya terhadap Tuhan. Kita tahu bahwa ada keteraturan yang menakjubkan dan mematuhi hukum-hukum tertentu dalam alam semesta ini. tapi kita mengetahuinya dan memahaminya secara samara-samar. Begitulah kata Spinoza. Pikiran kita sangat terbatas. Tak akan sanggup mengikuti pikiran tuhan yang amat sangat tak terbatas. Dunia batuan, pepohonan gemintang, planet, hewan bukanlah bukanlah subjek penelitian yang netral. Pokok bahsan sains murni tidak lain adalah cermin untuk meliahat bayangan wajah Tuhan. Kita membutuhkan cara atau media lain yang dapat di pahami secara menyeluruh.

            Namun apa yang ada di benak kita bila mendengar kisah martinis.

            Mungkin inilah kisah yang dapat menggetarkan hati kita. Kekuatan apa yang ada pada bocah ini. kekuatan apa yang menemaninya di pesisir panta yang terisolir. Kekuatan apa yang mengatur isi perutnya. Kekuatan apa yang menstabilkan gerak jantungnya. Kekuatan apa yang menyelimutinya di kala hawa dingin mulai menyerang dan menggigit tulang, kekuatan apa yang melindunginya dari serangan demam berdarah walaupun tubuhnya penuh dengan gigitan nyamuk, sementara di daerah lain anak-anak seumuran dia tergeletak lemas akibat serangan aedes aegepty ini. hanya satu jawaban yaitu kekutan Tuhan. Kekuatan Allah. Tuhan dengan keperkasaan dan kasih sayangnya, terlalu mudah tuk memberikan secuil kekuatan buat martinis. Inilah bukti yang tuhan turunkan tentang keberadaannya yang dengan mudah diterima bagi orang yang mau menggunakan segumpal hatinya dan berfikir. Tuhan terlalu mempunyai banyak cara untuk memberi bukti akan keberadaanya. Tuhan terlalu amat bijaksana.

            Setelah itu apa yang ada di benak kita ?

            Sujud !!!!!!!   

     Abu Bakar Saleh

Diterbitkan di: on at 6:39 pm Tinggalkan sebuah Komentar