Realitas Quantum

 

Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti misykat yg di dlmnya ada pelita besar. Pelita itu di dlm kaca (&) kaca itu seakan-akan bintang (yg bercahaya) seperti mutiara, yg dinyalakan dgn minyak dari pohon yg banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yg tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) & tidak pula di sebelah barat (nya), yg minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)[QS. An-Nur: 35]

Jabir bin Abdullah pernah bertanya kepada Nabi (saaw): “Apakah yg pertama kali diciptakan Allah sebelum segala sesuatu?” Maka Nabi (saaw) menjawab: “Hal yg pertamakali Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu (saaw)“

(lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 1, 2009 at 10:29 am Tinggalkan sebuah Komentar

perempuan berkalung sorban

3 hari yang lalu saya melihat trailer film perempuan berkalung sorban yang diangkat dari novel karangan  Abidah el Khalieqy ini di bioskop, yang akhirnya menarik perhatian saya untuk membaca novelnya. Bersetting di lingkungan pesantren putri dan mengangkat tema feminisme, terutama hak-hak perempuan dalam berumah tangga. Ceritanya sih datar-datar saja dan ulasan tentang hak-hak perempuan juga tidak begitu mendalam. Justru yang mendalam sekali  ketika penulis mengisahkan cumbu rayu malam pertama sepasang pengantin. Detail sekali. tak ada kata untuk memajaskan kelamin wanita misalnya. Cara-cara islam berinteraksi dengan lawan jenis yang pastinya telah terdoktrin di alam pesantren tak nampak,  seperti annisa sang tokoh utama dalam cerita ini sering berpegangan tangan, berpelukan dengan lek khuduri dalam suasana saling cinta sepasang kekasih.  apakah ini bentuk kebebasan perempuan yang diperjuangkan kaum feminis? terserah anda menilainya. 

 Hak-hak wanita dalam islam sangat di junjung tinggi. hadis-hadis yang beredar  sangat ‘maskulin’ di dalam kitab-kitab klasik memang masih dipegang teguh oleh ulama2 yang pastinya klasik juga. seperti hadis yang menyatakan bila suami ingin bersetubuh dan istri menolak maka si istri akan di laknat Allah,  sepengetahuan saya hadis itu tak lengkap. hadis itu tak berlaku sepihak saja, lengkapnya bila si suami menolak bila si istri ingin bersetubuh, maka si suami akan di laknat juga. Jadi sama rata. Intinya sebenarnya adalah komunikasi dan saling pengertian. Dan setahu saya hadis ini shahih dimana pada novel itu terkesan di dhaifkan. Perempuan juga menurut saya sepertinya lebih pantas bertugas mengurus rumah tangga dan mendidik anak secara lebih dominan daripada pria. Hal ini tidak lantas membuat perempuan tak perlu sekolah tinggi. Tidak. justru perempuan harus sekolah hingga s2 bila perlu karena seorang perempuan yang pandai akan mampu mendidik anak-anaknya menjadi pandai juga. jadi sudah saatnya para wanita menganggap mendidik anak adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan skill dan keilmuan yang tinggi yang tak kalah bergengsi dengan kerja disebuah perusahaan besar dimana gajinya adalah suatu kebanggaan melihat anak-anaknya berkembang menjadi seorang manusia yang berguna bagi semua. Tak ada gaji yang lebih besar dari itu.

Diterbitkan di:  on Januari 12, 2009 at 9:09 pm Tinggalkan sebuah Komentar