Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti misykat yg di dlmnya ada pelita besar. Pelita itu di dlm kaca (&) kaca itu seakan-akan bintang (yg bercahaya) seperti mutiara, yg dinyalakan dgn minyak dari pohon yg banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yg tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) & tidak pula di sebelah barat (nya), yg minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)[QS. An-Nur: 35]
Jabir bin Abdullah pernah bertanya kepada Nabi (saaw): “Apakah yg pertama kali diciptakan Allah sebelum segala sesuatu?” Maka Nabi (saaw) menjawab: “Hal yg pertamakali Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu (saaw)“
Ada yang menarik buat saya dengan kutipan ayat dah hadist diatas. Imam As-Suyuti dlm Kitab Tafsir Jalalain berkata bahwa ‘Cahaya’ itu adalah Nabi Muhammad saaw. Adalagi yang berkata bahwa alam semesta dan segala mahluk hidup yang ada di dalamnya adalah pancaran dari nur Muhammad itu. Jadi yang menjadi sebab adanya alam semesta ini adalah nur Muhammad ini. Menariknya, sebagaimana yang kita telah ketahui, didalam dunia fisika terdapat dua pandangan, fisika klasik (Newtonian), dan fisika modern (fisika Quantum). Fisika Newtonian mengkonsentrasikan pikirannya kepada benda solid, atau yang bisa dilihat sehari-hari. Sedangkan fisika Quantum memulai observasinya pada benda-benda yang sangat kecil, yang lebih kecil dari atom, yang tidak bisa dilihat oleh mata. Dari berbagai macam penelitian, di temukan hal yang menarik yaitu ternyata segala yang ada di dunia ini bukan berasal dari benda padat tapi berasal dari ruang hampa, yang berupa energi yang tak tampak dan bergetar. Getaran-getaran (vibrasi) energi yang sangat halus inilah yang disebut quanta. Kalau kita melihat ayat dan hadist di atas, tentunya kita berfikir bahwa quanta ini adalah Nur Muhammad itu, yang menjadi sebab terciptanya alam semesta ini. Artinya juga sebenarnya kita ini menyatu dengan yang lainnya karena kita berasal dari pancaran cahaya yang satu. Saya membayangkannya dengan sebuah lampu yang menyinari ruang secara menyeluruh.
Adalagi yang menarik dari sang quanta ini. Tingkah laku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya berasal dari “niat” penelitiannya(Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu). Alhasil jika peneliti menghendaki partikel adalah sebuah cahaya, atau sebuah gelombang tergantung dari keinginan sang peneliti dengan alat ukur atau teori yang mendukung keingian itu. Peneliti tidak saja mengamati perubahan yang terjadi tapi juga mampu menciptakan realitas yang diingini. disini berlaku hukum ketidakpastian. Karena kita berasal dari quanta juga, kitapun mampu menciptakan realitas yang kita mau. sebab yang berlaku atas kesuksesan kita misalnya tidak hanya berasal dari teori atau kerja keras kita misalnya, tetapi sebab itu juga berasal dari diri kita (tepatnya dari olah fikir, positif thinking, positif feeling, doa, ). Menurut teori ini, kita dengan usaha yang keras bisa saja mendapatkan uang 100jt. tapi kita juga mampu mendapatkan 100jt dengan mudah asal kita melibatkan diri kita pada kesadaran quantum, yang menyebabkan seolah uang 100jt itu mendekat kepada kita, karena bukankah uang 100jt itu berasal dari sumber yang “sama” dengan kita. jadi Realitas quantumlah yang kita olah sebelum menjadi benda fisik yang dapat kita nikmati, tentunya melalui olah fikir dan doa-doa kita. Karena kitalah yang menentukan realitas hidup kita.