Berjalan perlahan menyusuri sepanjang lorong jembatan yang panjangnya mengikuti hati yang tak karuan. Pandangan lurus kedepan, sekali kali melirik segala macam ‘maha karya seni lukis’ di dinding jembatan yang telah seabad umurnya. Entah apa maksud semua gambar, sebuah proteskah, segores tanda kuasa dari preman jembatankah, atau mungkin sekarya pemuda frustasi yang terseret prahara cinta. Asap, suara desing kendaraan masih sama, masih membuat mendidih seratus dua puluh derajat darah orang orang kaya yang takut bangkrut, orang-orang pintar yang sok teori. Sedangkan aku, sorry aja yaa, pikiranku kosong, berjalanpun aku tak bisa secara jelas menerangkan, atau mempresentasikan tujuan dari langkahan kakiku. Kalau ditanya mau kemana, jawabnya dua kata “belum jelas”. Akupun bukan orang kaya yang sibuk mengkalkulasi jumlah ringgit sekalian jumlah orang orang yang telah ditindas. Jadi mustahil aku stress terganggu suara desing dan asap, bukan kelasnya buat stress dan sobat-sobat karibnya mendekati orang gila seperti aku. Roda nasib telah berputar. Aku telah kebagian sayap, lalu terbang melayang mengikuti arah angin, menjangkau tingginya langit, lalu menukik tajam menghantam grafitasi, aku telah kebagian sirip, lalu berenang menyusuri samudera, menghitung dalamnya laut, mencatat semua jenis penduduk laut yang tentram. Tak ada yang peduli. Gila!
Aku masih berjalan. Dinginya angin malam menusuk. Kurogoh saku, membeli setengah bungkus gudang garam terbungkus malboro. Terlintas tulisan disamping bungkus “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.” Ironis, munafik makiku sambil terus menghisap dalam-dalam asap kesepian, lalu menghebuskan membentuk bulatan kebahagiaan.
Apakah aku orang bahagia? Tentu saja mas! Ukurannya apa? Tak tahu! Oooo atau mungkin karena aku tak pernah lapar. Absurd! Lapar ada karena orang kenal dengan kenyang. Sedangkan aku tak pernah mengenal kenyang, jadi tak mungkin laparlah. Simpelkan. Aku juga tak kaya, apalagi miskin. Aku tak mau mengenal predikat predikat itu. Predikat yang membuat pusing
Kusulut rokok kedua dengan rokok pertamaku sebelum ku membuangnya. kaki masih tetap melangkah tenang. Cukup lama ternyata ku melangkah tanpa teman disamping. Hanya 6 buah batang rokok yang sanggup mengerti.
Kebahagian adalah sebuah posisi yang mampu mengkondisikan segala sesuatu yang mengisi dinamika dalam predikat kehidupan ini. Namun apakah posisi kebahagiaan berada pada ketakpemilihan salah satu predikat,maksudnya berada pada tengah-tengah.
Tidak selalu begitu. Yang meletakkan predikat-predikat itu adalah orang, bukan kita sendiri. Orang kaya yang bahagia adalah orang yang tak pernah bisa diperbudak oleh kekayaannya. Punya mobil selusin hilang sebelas masih bisa tersenyum sambil berkata “Untung tak hilang semua, lumayan.” Begitu juga dengan orang miskin, orang yang tak pernah terlintas sedikitpun rasa miskin di susunan saraf-saraf di kepala dan gumpalan hatinya. Saraf-saraf di kepalanya hanya bisa memerintah mulut mengucapkan kata syukur terhadap semua yang terjadi pada diri. Jadi kebahagiaan bisa hinggap pada salah satu predikat di lekatkan orang-orang pada kita yang pada hakikat tak pernah disadari oleh orang yang berpredikat itu sendiri.
Lalu apakah ada alat atau cara untuk bahagia.
Ada! Cinta, ya cinta diri tepatnya. Aku masih trus berceramah, angin, bulan, bintang, pekat malam menjadi pendengar setiaku, tanpa pernah protes dan mengkritik. Mereka sangat mengerti aku, makanya tak ada kritik dan protes. Kenapa? Ya karena aku tak senang dikritik, walaupun konstruktif sekalipun. Aku muak dengan kritikus seperti mahasiswa konyol yang memprotes dan mengkritik kebijakan pemerintah mengurangi subsidi BBM dan mahalnya biaya pendidikan. Pemerintah kan inginnya mengurangi subsidi BBM demi peningkatan pendidikan dan kesehatan. Mahasiswa itu mempertahankan yang satu, menghancurkan yang banyak. Goblok mereka!! Aku tahu kemampuanku sampai mana, aku lebih tahu mana yang harus di kritik atau tidak. So tak perlu repot-repot mengkritik apa yang telah ku kritik dahulu pada diriku sendiri.
Cinta diri sejati itu harus diletakkan pada dimensi ruh kita agar tak ada kontradiksi dan friksi, jadi harus utuh dan abadi. Maksudnya begini, dimensi paling dalam diri kita adalah ruh. Sudah ku bilang dalam ruh tak ada friksi atau antagonistic, tak ada laki perempuan tak ada senang susah etc. lebih luar dari ruh ada jiwa, disini baru ada laki-perempuan, senang-susah, sedih-bahagia. Nah pada dimensi yang paling luar baru di deskripsikan dimensi pada jiwa, yaitu dimensi badaniah atau jasmani.
Jadi apabila kita mampu mengolah ruh kita denagn bahagia dan cinta, bahagialah kita karena tak mungkin ada kata tak bahagia atau sedih. Kalau pun ada itu hanya mengiris sedikit “bahagia”. Seperti kata gibran, benci adalah cinta yang tersakiti. Missal, begitu tak senangnya orang tua kita dengan kelakuan kita, our parents pasti tetap mencintai kita. Kita telah menyakiti cintanya. ‘Menyakiti cintanya’(bayangkan cinta adalah suatu mahluk utuh). Jadi cinta pada ruh tak akan bisa di gugurkan oleh kondisi apapun. FAHAM!!!!!!!!!!! Sepi tak ada suara. AHHHH
Aku berbalik arah, aku ingin pulang ke peraduan. Rokokku telah kuhisap semua. Kini sempurnalah kesendirianku. Kutatap bulan di atas sana, bulan yang hanya meminjam sepercik sinar dari sang matahari, namun kenapa banyak orang yang memuji bulan. Aku ingin bercanda dengan mimpi- mimpi. Bukankah kehidupan ini sudah mimpi yang kan kita tahu setelah bangun. Ahhh itu kan teori dari orang yang tak bahgia. Aku ini orang bahagia. Hidup adalah hidup, mimpi adalah mimpi. Kutelusuri jalan lurus yang sama. Aku pilih jalan yang lurus karena aku suka dengan yang lurus-lurus. Andaikata jalan di dunia ini lurus-lurus semua, ohh alangkah senangnya aku.
bagus bagus
satu visi, boleh dong tampilin blog ana di blogroll antum. syukron……….
http://dzulfikar.wordpress.com/
thanks untuk comentnya.
ok..