DEWA 19
Dewa 19 kembali mengeluarkan album. Di beri judul Republik Cinta. Seperti kita ketahui sebelum album terbaru ini keluar, Dewa di mana Ahmad Dhani sebagai presidennya banyak menuai protes dari kalangan agamawan. Dari masalah lambang album ke-7 yang bertajuk laskar cinta yang konon katanya merupakan kaligrafi berbunyi “Allah” sampai ke masalah lirik lagu. Menurut dani lirik lagu yang di tulisnya pada album laskar cinta sarat dengan luapan cinta kepada Tuhan, kepada sang Khalik. Itu menurut dewa khususnya Dhani. Namun menurut kaum agamawan syair atau lirik dalam lagu-lagu dewa itu sangat menyesatkan dan meresahkan./Dengan tanganmu aku menyentuh/Dengan kakimu akau berjalan/Dengan matamu aku memandang/Dengan telingamu aku mendengar/Dengan lidahmu aku bicara/Dengan hatimu aku merasa. Beginilah pesan dewa dalam lagu yang berjudul “satu”(album lascar cinta), sangat kental sekali menyuarakan konsep penyatuan hamba dan Tuhannya (wahdatul wujud), seperti yang di usung pertama kali oleh Alhallaj, salah satu tokoh sufi kenamaan yang kontroversial. Konsep ini tak semua kalangan islam menerimanya, walaupun ada dalam jumlah yang sedikit menerimanya. Ridwan Saidi, penulis buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyatakan faham ini sesat dan menyesatkan. Wallahualam.
Disini saya tak mau membahas konsep wahdatul wujud diatas. Tapi saya mencoba untuk membuka inkonsistensi Dhani dalam menulis syair-sayairnya apabila Dhani masih setia bersyair dengan kesufi-sufian. Dan secara kebetulan saya menemukannya. Saya menemukannya karena saya adalah penikmat setia lagu-lagu dewa.
Dalam lagu terbarunya yang berjudul laskar cinta, sepertinya dewa mengusung makna cinta dalam lirik-liriknya./Laskar cinta sebarkanlah benih-benih cinta/Musnahkanlah virus-virus benci/Virus yang bisa rusakkan jiwa dan busukakkan hati/Lascar cinta ajarkanlah ilmu tentang cinta/ Karena cinta adalah Hakikat/Dan jalan yang terang bagi semua umat manusia. Dia juga menuliskan dalam lagu ini /Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi/Menyayangi manusia-manusia yang penuh benci seperti kamu.
Cinta mungkin menjadi tema yang paling sering di bicarakan, didiskusikan, diperdebatkan, diteaterkan atau di filmkan. Buku-buku tentang cinta sudah banyak telah menjadi bagian dalam jejeran buku-buku di perpustakaan-perpustakaan besar di dunia. Kisah-kisah tentang cinta begitu di elu-elukan. Ribuan novel tentang cinta telah di lahirkan ratusan pujangga. Romeo dan Juliet, Laila Majnun, Hamlet-nya Shakespare menjadi contohnya.
Lalu apa sih cinta itu. Dalam psikologi sufi manusia terdiri dari tiga lapis. Lapis terdalam adalah ruh, lalu yang ditengah-tengah adalah qalbu atau nafsu dan yang paling terluar adalah badan atau yang biasa disebut jasmani. Ruh adalah lapisan inti dari kemahlukan manusia. Ruh itu utuh. Pada ruh tak ada yang namanya kontradiksi atau friksi. Sekali lagi dia utuh. Pada tahap atau lapisan Qalbu baru ada kontradiksi atau friksi. Pada lapisan Qalbu ini ada yang namanya laki-laki atau perempuan, ada senang ada sedih, ada nikmat, nyaman, manis, pahit dan sebagainya. Kemudian pada lapisan terluar yaitu jasmani dijelaskan potensi-potensi atau bentuk-bentuk yang di akibatkan oleh kalbu. Seperti potensi kewanitaan misalnya betuk jasmaninya seperti apa. Ada payudara atau lainnya yang kita bisa menyimpulkan dia adalah seorang wanita.
Nah cinta itu letaknya pada lapisan mana? Dalam litelatur sufi, para sufi meletakkan cinta apada lapisn ruh. Dengan begitu cinta itu utuh. Tak ada konflik seperti senang dan benci atau pahit dan manis. Jadi bila kita sudah di naungi oleh cinta, kita tak akan mengenal lagi yang namanya benci dan sejenisnya. Kita sering mendengar orang mengucapkan aku jatuh cinta padamu, tapi setelah beberapa tahun kita melihatnya putus atau bercerai. Alasannya karena perbedaan yang terlalu besar cinta kita luntur atau karena perbuatan yang tak disukai cinta itu hangus. Menurut hakikat cinta, hubungan seperti itu belum di landasi cinta. Hubungan seperti itu hanya cinta di bibir saja. Karena cinta itu tak bisa luntur dan hangus. Akan lebih indah rasanya bila akan memulai suatu hubungan seperti pacaran kita mengucapkan kepada lawan jenis kita, “aku ingin menumbuhkan cinta diantara kita berdua, maukah engkau menjadi partnerku untuk mencari cinta itu agar kita dapat terus bersama hingga sepuhnya dunia.” Benci dan sejenisnya itu adalah cinta yang tersakiti kata sang pujangga kenamaan Kahlil Gibran. Benci menimbulkan rasa sakit pada cinta. Tapi cinta itu tetap ada karena dia utuh dan abadi. Misalkan bagaimanapun tidak senangnya orang tua pada anaknya yang nakal, orang tua itu pasti tetap mencintai anaknya itu. Begitu juga sebaliknya. Anaknya yang nakal itu menggores luka pada cinta sang orang tua. Alhasil cinta itu tak dapat di gugurkan oleh situasi apapun. Seorang yang telah menemukan cinta hanya akan memandang keindahan, tak ada keburukan walaupun boleh jadi memang ada keburukan. Karena cinta setiap cacian adalah nyanyian yang mengalun indah. Karena cinta setiap tamparan adalah tarian indah. Cinta akan menyebabkan kita berada pada kebaikan semata. Oleh karena itu kebajikan-kebajikan yang tumbuh akibat cinta akan menghadirkan pengetahuan emosional yang baik, dimana Allah swt akan dirasakan kehadiran-Nya bukan oleh orang yang hanya menangakap tanda-tanda rasional saja tetapi oleh orang yang kaya emosional.
Kembali ke liriknya Dhani dalam lagu yang berjudul lascar cinta yang. Berdasarkan penjelasan diatas liriknya dani itu sangat tidak konsisten bila beliau mengatakan cinta adalah hakikat. Bila cinta adalah hakikat berarti tak ada lirik seperti ini /Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi/Menyayangi manusia-manusia yang penuh benci seperti kamu. Karena seperti di tulis diatas cinta itu tak mengenal benci. Rabi’ah Al-‘Adawiyah pernah ditanya oleh seseorang apakah dia membenci setan, beliau menjawab kecintaanya kepada Allah swt sudah tak menyisakan kebencian terhadap mahluk-mahluk yang di ciptakan Allah. Menurut Rumi, tokoh sufi yang setahu saya sangat di idolakan oleh Dhani (selain Dhani juga sangat mengidolakan Abdul Qadir Jaelani, Jalalludin al-Afghani dan Freddy Mercuri) hanya cinta yang dapat membawa seorang pelaku sufi berhasil dalam perjalanan mereka mencapai Diri Yang Tinggi, sebab cinta merupakan cara unggul mencapai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Dalam ke filsafatan rasa benci atau sebuah bentuk kejahatan itu tak ada. Pada hakikatnya kejahatan dan kebaikan itu berada dalam satu wujud, yaitu wujud kebajikan. Bukan berarti kejahatan yang kita sering saksikan di dunia ini bukan suatu kejahatan. Bentuk kejahatan atau kebencian itu timbul karena kebaikan itu sudah tak terlaksana lagi. Jadi Inilah makna ayat khairihi min syarrihi min Allah (kebajikan dan kesalahan dari Allah). Disini bukan Allah yang membuat kita berbuat kesalahan atu kejahatan. Seperti gelap yang hadir karena penerangan tak ada. Dengan begitu cinta itu mengungkap hakikat-hakikat itu.
Terakhir, bila suatu saat Ahmad Dhani membaca tulisan ini saya akan mengucapkan terima kasih dan apabila dani tak setuju dengan apa yang saya utarakan, saya akan kembali berterima kasih bahkan akan semakin tulus karena dengan begitu dhani telah menumbuhkan rangsangan bagi saya untuk terus belajar menulis yang akan ada muaranya, dan dhani secara tidak langsung sudah menggalakkan tradisi diskursif yang sangat mulia. Anggaplah ketidaksetujuan anda menyadarkan saya bahwa tak ada kebenaran sejati yang ada adalah khayalan yang selama ini saya tak sadar. Atau meyakinkan saya bahwa saya tak punya daya dan upaya untuk menentukan kebenaran yang sejati. Tapi akankah Dhani membacanya??